Banyak sekali jenis tanaman obat yang potensial untuk digunakan sebagai pengendalian organisme pengganggu tumbuhan atau sebagai pestisida. Indonesia di kenal dengan negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati (Mega-biodiversity) terbesar kedua di dunia setelah Brazil, termasuk memiliki sejumlah tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan dasar pestisida, baik yang dapat langsung digunakan atau dengan ekstraksi sederhana dengan air, ekstraksi dengan pelarut organik lainnya ataupun dengan cara penyulingan, tergantung kepada tujuan dari formula yang akan dibuat. Di Indonesia diperkirakan ada sekitar 2400 jenis tanaman yang termasuk ke dalam 235 famili (Kardinan, 1999).
Pestisida nabati telah dikembangkan oleh nenek moyang kita sejak dahulu yang disiapkan secara tradisional, dengan memanfaatkan tanaman yang ada di lingkungan pekarangan untuk melindungi tanaman dari serangan pengganggu tanaman secara alamiah. Kearifan nenek moyang kita bermula dari kebiasaan menggunakan bahan jamu (empon-empon = Jawa), tumbuhan bahan racun (gadung, ubi kayu hijau, pucung, jenu = Jawa), tumbuhan berkemampuan spesifik (mengandung rasa gatal, pahit, bau spesifik, tidak disukai hewan/serangga, seperti awar awar, rawe, senthe), atau tumbuhan lain berkemampuan khusus terhadap hama/penyakit (biji srikaya, biji sirsak, biji mindi, daun mimba, lerak, dll).
Ada beberapa jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan dasar pestisida, antara lain yang termasuk janis pohon seperti mimba (Azadirachta indica), mindi (Melia azedarach), cengkeh (Syzygium aromaticum), Sirsak (Annona muricata), srikaya (Annona squamosa). Yang termasuk jenis semak seperti rimpang : jahe (Zingiber officinale), kunyit (Curcuma domistica), lengkuas (Alpinia galanga), jaringau (Acorus calamus); kemudian sereh wangi (Cymbopogon Nardus), Selasih (Ocimum basillicum). Kemudian yang termasuk jenius semak atau merambat seperti brotowali (Tinospoira crispa), Sirih (Piper betle), tuba (Derris elliptica), cabe jamu (Piper retrofactu).
Penyebaran tanaman obat dimulai dari daerah pantai dengan kondisi tanah kering berpasir, berbatu, tanah regosol berpasir (Zuhud et al., 1994). Contoh tanaman obat yang tumbuh di daerah ini adalah jenis cemara dan waru laut. Di daerah pantai dan tepian sungai berlumpur terdapat hutan mangrove (payau), TO yang tumbuh di daerah ini contohnya tanaman nipah. Di samping daerah tersebut juga terdapat hutan rawa, di sekitar sungai selamanya atu sering tergenang sir, contoh tanaman obat yang tumbuh di lokasi ini adalah pule. Di daerah rawa gambut termasuk daerah miskin hara, contohtanaman obat yang tumbuh di daerah ini sukun dan suket katelan.
Jumlah curah hujan menggambarkan air sebagai penopang kehidupan tanaman. Tanaman tidak dapat tumbuh tanpa air, terlihat bahwa jaringan tanaman sebagian besar adalah air, lebih kurang 95% kandungan airnya. Sehingga tanaman yang kekurangan air dapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan produktivitas tanaman (Mejaya,2000). Tanaman obat sebagian besar tumbuh liar baik di hutan, semak-semak, di padang rumput, di pematang sebagai gulma, adaptasinya terhadap kekurangan air kadang-kadang lebih besar. Beberapa tanaman obat mati pada musim kering dan tumbuh kembali pada musim penghujan. Tanaman obat yang dibudidayakan contohnya jahe, kencur, kunyit, temulawak, temu putih, lengkuas, kumis kucing ,tempuyung, katuk,hampir semuanya ditanam pada lahan tegalan,tadah hujan, kecuali katuk ditanam pada lahan tegalan yang dapat diairi.
Tingkat Naungan
Semua tanaman obat memerlukan sinar matahari untuk aktifitas fotosintesisnya, walaupun setiap jenis tanaman mempunyai toleransi yang berbeda. Berlaku hampir untuk semua tanaman, apabila jumlah sinar yang diterima berkurang sampai pada Tingkat tertentu maka produktivitas dan mutunya menurun. Banyak jenis-jenis TO yang dapat tumbuh di bawah tegakan kayu atau tanaman keras, biasanya TO ini termasuk tanaman jenis perdu, herba dan sebagai gulma.
Budidaya tanamann obat juga sering dilakukan dengan cara tumpang sari. Contohnya TO tempuyung ditanam bersamaan dengan jagung, bawang merah, bahkan dapat ditanam di bawah tegakan pisang, hingga tingkat naungannya mencapai 50%. Walaupun mutu bahan aktifnya menurun pada tingkat naungan hingga 50% dibandingkan pada tanaman yang ditanam di tempat terbuka 100%, akan tetapi pada tanaman dengan naungan 50% tersebut mutunya masih memenuhi standar yang telah ditentukan oleh Materia Medika Indonesia. Sehingga untuk tanaman tertentu masih layak ditanam dibawah tegakan hingga ternaungi 50%.
Jenis dan Tingkat Kesuburan Tanah
Jenis dan tingkat kesuburan tanah merupakan salah satu faktor penentu terhadap tingkat produktivitas dan mutu tanaman obat. Tanaman obat penghasil rimpang dari famili Zingiberaceae (jahe, kencur, kunyit, temulawak, temu putih, dll) dan penghasil umbi dari famili Umbiliferae (porwoceng) memerlukan tanah yang gembur disamping subur. Budidaya tanaman obat pada famili ini memerlukan bahan organik relatif tinggi.
Untuk pembuatan rimpang dan umbii diperlukan tanah yang gembur, fraksi pasirnya cenderung lebih tinggi atau seimbang dibandingkan fraksi liatnya. Sehingga tanaman obat yang termasuk pada famili tersebut pada umumnya dibudidayakan pada tanah latosol, andosol, dan regosol. Kebutuhan bahan organik yang relatif tinggi selain untuk mempertahankan iklim mikro tanah yaitu menjaga kelembababan, suhu, aerasi, juga diperlukan untuk meningkatkan kesuburan tanah. Perkembangan rimpang dan umbi perlu kelemnbaban dan suhu yang stabil dan aerasi tanah yang baik.